Pengintegrasian nilai karakter bangsa dalam RPP

 

Makalah  yang dibahas  dalam kegiatan  Pelatihan Pengintegrasian Nilai-nilai Kebangsaan dalam  RPP

INTEGRASI PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH DI SEKOLAH MENENGAH
PENDIDIKAN KARAKTER
 
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MATA PELAJARAN SEJARAH DENGAN MENERAPKAN  METODE VALUE CLARIFICATION TECHNIQUE (VCT)
 
RATNA HAPSARI
11/23/2012
 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh :  Ratna Hapsari [1]

A.  Pendahuluan

            Akkir akhir ini istilah pendidikan karakter sedang menjadi topik hangat dan menjadi pokok pembicaraan di berbagai kalangan di  masyarakat.  Mulai dari para pejabat Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional , Kepala Dinas Pendidikan di setiap propinsi, tokoh masyarakat dan elite politik berlomba-lomba mengadakan seminar, workshop, forum diskusi sampai kepada pelatihan untuk membahas dan mencari format implementasi tentang hal tersebut.  Munculnya wacana tentang pendidikan karakter atau pendidikan tentang moral telah dikenal bahkan sejak zaman Plato, pada masanya para pemegang kebijakan telah menetapkan pendidikan moral yang sengaja dibuat sebagai bagian utama dari pelaksanaan pendidikan di sekolah.  Tetapi hanya karena pada saat ini  perkembangan sosial politik dan perilaku kehidupan berkebangsaan sedang penuh diwarnai dengan konflik komunal, lunturnya semangat nasionalisme, dengan berbagai eksesnya, maka mulai timbul pertanyaan, apa yang salah dalam penyelenggaraan pendidikan di negara ini ?  Karena kenyataanya fenomena patologi sosial yang sedang berkembang saat ini merupakan hal yang bertentangan dengan misi pendidikan nasional, yaitu membentuk manusia Indonesia yang berkepribadian dan berakhlak mulia seperti yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional.

            Hanya saja jika ada kecenderungan yang memposisikan bahwa pendidikan karakter akan menjadi solusi bagi penyelesaian dari carut marutnya persolan bangsa agaknya juga akan menjadi sesuatu yang berlebihan.  Patologi sosial yang berkembang seperti perilaku anarkis, konflik vertikal dan horizontal, korupsi, penyalahgunaan penggunaan narkoba, kriminalitas, kerusakan lingkungan dan sebagainya membutuhkan solusi yang harus melibatkan semua komponen bangsa yang memiliki berbagai kemampuan professional dan potensi dalam memecahkan masalah yang ada dengan lebih komprehensif.  Jika kita mencermati apa yang termaktub dalam UU Pendidikan nomor 20 tahun 2003, ataupun dalam UU sebelumnya seperti UU nomor 4 tahun 1950 dan UU nomor 12 tahun 1954 yang mengatur sistem pendidikan nasional, semuanya telah mengamanatkan soal pembentukan karakter dalam penyelenggarakan pendidikan.

            UU nomor 2 tahun 2003, pasal 3 menegaskan bahwa:  Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab.  Selanjutnya dalam PP nomor 19 tahun 2005 yang tercantum dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL) tercantum beberapa pasal yang berorientasi pada pembentukan karakter.  Seperti dalam pasal 4 misalnya dijelaskan bahwa, Standar Nasional Pendidikan (SNP) bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.  Kemudian pada pasal 13 dijelaskan bahwa kurikulum untuk SMP/MTs/SMPLB atau bentuk lain yang sederajat dan SMA/MA/SMK atau bentuk lain yang sederajat, dapat memasukkan pendidikan kecakapan hidup yang mencakup kecakapan pribadi, kecakapan sosial, kecakapan akademik dan kecakapan vokasional.  Dilanjutkan pada pasal 25 juga dijelaskan kembali bahwa kompetensi lulusan, mencakup sikap, pengetahuan dan ketrampilan, dan kemudian diperjelas pada pasal 26 yang menyatakan bahwa : semua jenjang pendidikan, mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi, berorientasi pada kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta ketrampilan untuk hidup mandiri

            Dengan dukungan UU Sisdiknas dan Peraturan Menteri Diknas  telah menunjukkan dengan jelas bahwa penyelenggaraan pendidikan di Indonesia sudah sangat berorientasi pada pembentukan karakter.  Orientasi tersebut ditemukan dalam kalimat pasal 4  “membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat “ pada pasal 13, “kecakapan pribadi dan kecakapan sosial” serta “ kepribadian dan akhlak mulia” yang terdapat dalam pasal 26, sehingga sebenarnya pendidikan karakter tersebut telah sedemikian melekatnya dengan sistem pendidikan nasional kita.  Tetapi mengapa hal ini tidak terwujud di dalam kenyataan sehingga pendidikan karakter terkesan harus muncul sebagai wacana tersendiri dan seolah lepas dari tujuan pendidikan yang sudah ada?

 

B.  Mengapa Pendidikan Karakter Diperlukan ?

            Sebelum kita membahasnya lebih lanjut maka kita perlu memahami terlebih dahulu tentang apakah pendidikan karakter itu ?  Kamus umum bahasa Indonesia karakter diartikan sebagai tabiat, perangai atau sifat-sifat seseorang, sementara berkarakter diartikan dengan mempunyai kepribadian sendiri, dan kepribadian diartikan dengan cirri khas dan hakiki seseorang yang membedakan antara seseorang dan orang lain. (Badudu & Zain, 1996).  Dengan demikian maka karakter bangsa dapat diartikan sebagai tabiat, perangai, watak atau sifat-sifat yang baik atau positif dari suatu bangsa yang didasari oleh nilai-nilai bangsa tersebut. Dalam beberapa literatur dan dengan sudut pandang yang berbeda, pengertian karakter, watak dan sifat seringkali menjadi bahan perdebatan sendiri.  Tetapi jelas bahwa karakter selain dapat diartikan secara individual, karakter juga dapat dimaknai secara kolektif, yaitu merupakan sifat yang khas dari suatu komunitas atau masyarakat tertentu.  Dan jika dilihat dari sudut pandang pendidikan maka karakter dalam konteks pendidikan dapat dimaknai sebagai sebuah proses internalisasi dari sifat-sifat utama yang menjadi cirri khusus dari suatu masyarakat yang disampaikan kepada peserta didik sehingga dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa sesuai dengan nilai-nilai budaya masyarakat setempat.

            Karena diharapkan sebagai internalisasi dari sifat-sifat utama yang diinginkan maka pendidikan karakter sebaiknya diajarkan melalui pembiasaan terhadap pendidikan nilai-nilai, yaitu sesuatu yang dianggap baik,  dapat diterima secara luas, dan kemudian menjadi landasan perilaku yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab.  Dengan demikian maka karakter juga dapat diartikan sebagai sekumpulan  nilai yang telah menjadi kebiasaan hidup dan sifat yang menetap dalam diri seseorang dan semuanya itu dapat dibentuk atau dikembangkan melalui proses pendidikan formal maupun informal.  Menurut ahli pendidikan nilai Darmiyati Zuchdi (2008) karakter dimaknai pula sebagai seperangkat sifat sifat yang menunjukan kematangan moral seseorang.  Ajaran moral yang terintegrasi dalam mata pelajaran sudah tidak asing lagi bagi dunia pendidikan, yaitu diajarkan melalui Pendidikan Agama dan Pendidikan Moral Pancasila yang sekarang dirubah menjadi Pendidikan Kewarganegaraan.  Dan dalam hal ini tidak hanya dalam ke dua mata pelajaran itu saja, tetapi juga secara tersirat pendidikan moral, nilai dan etika terkandung di dalam seluruh mata pelajaran yang terdapat di dalam struktur kurikulum.  Terkait dengan pendidikan karakter yang diperoleh melalui ajaran moral menurut Emmanuel Kant bertujuan :  (1) memaksimalkan rasa hormat kepada manusia sebagai individu, (2) memaksimalkan nilai-nilai moral universal (bukan hanya didukung oleh otoritas masyarakat atau kelompok tertentu)  tetapi keterlaksanaan dari prinsip prinsip moral universal dan diakui secara universal pula.

            Daniel Coleman (1999) yang lebih dikenal sebagai penulis buku Multiple Intelegence, menyebutkan bahwa pendidikan karakter merupakan pendidikan nilai yang mencakup 9 nilai dasar yang saling saling terkait yaitu : (1) responsibility (tanggung jawab), (2) recpect (rasa hormat), (3) fairness ( keadilan), (4) courage ( keberanian), (5) honesty (kejujuran), (6) citizenship (rasa kebangsaan), (7) self discipline (disiplin diri), (8) caring ( peduli), dan (9)  preceverence  (ketekunan).  Nilai nilai ini yang kemudian oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional dikembangkan menjadi 18 nilai atau karakter sebagai wacana baru, yang meliputi, religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab.

            Jika secara kebijakan maupun pemahaman secara teoritis sudah sedemikian lengkapnya,  mengapa penerapan nilai nilai ini dalam proses pembelajaran tidak menampakan hasil yang diinginkan? Bahkan fenomena patologi  sosial yang ada di sekolah seperti : kekerasan dan tindakan anarki, pencurian, tindakan curang, pengabaian terhadap aturan yang berlaku, tawuran antar siswa, ketidaktoleranan/ prasangka, penggunaan bahasa yang tidak baik, kematangan seksual yang terlampau dini/ penyimpangan, serta perusakan diri (self destruction) malah semakin memprihatinkan ? Untuk ini maka David Elkin (2004) mengemukakan bahwa pendidikan karakter itu memang diperlukan, karena pendidikan karakter adalah upaya sadar dan yang disengaja serta terpogram untuk menolong manusia agar mengerti, peduli dan bertindak berdasarkan nilai-nilai dasar etika, dengan tujuan agar mereka mengetahui apa yang benar dan apa yang baik dan patut serta sangat peduli terhadap apa yang benar dan patut serta percaya dan yakin meskipun dalam keadaan yang tertekan dan dilematis.

C.  Menerapkan Metode Value Clarification Technique (VCT) dalam Pembelajaran Sejarah

            Kegagalan dalam penanaman nilai nilai sebagai pembentukan karakter disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya :

  • Pemilihan strategi, metode dan teknik implementasi yang kurang tepat dalam proses pembelajaran, guru masih cenderung mempertahankan paradigma lama seperti : orientasi kepada materi, proses pembelajaran berpusat pada guru (teacher centered learning) dan proses penilaian kognitif.
  • Nilai yang diajarkan sebaiknya terintegrasi dengan materi yang diajarkan, dan harus melalui proses pilihan (oleh siswa sendiri), sehingga nilai yang dipelajari tidak saja mudah dipahami tetapi juga dapat diterapkan  dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukan  Piaget   (2008)  bahwa:  perilaku moral hanya akan memiliki nilai moral jika perilaku itu dilakukan berdasarkan pertimbangan rasional, atas dasar kemauan sendiri secara sadar, dan sebagai implikasi dari pemahaman atas nilai nilai yang dipelajari. 

Terkait dengan hal tersebut, sebagaimana telah diketahui bersama bahwa konsep ideal tujuan pendidikan Sejarah, seperti yang termuat dalam Standar Isi (kurikulum) dinyatakan bahwa pendidikan sejarah melalui materi materi yang diajarkan  memiliki arti strategis dalam pembentukan watak dan peradaban bangsa yang bermartabat serta dalam pembentukan manusia Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air.  Sehingga penjabaran materi sejarah pada umumnya telah mengandung: (1) nilai-nilai kepahlawanan , keteladanan, kepeloporan, patriotisme dan semangat pantang menyerah yang mendasari proses pembentukan watak dan kepribadian peserta didik (2)  khasanah mengenai peradaban bangsa-bangsa, (3) penanaman kesadaran persatuan dan persaudaraan serta solidaritas perekat bangsa dalam menghadapi ancaman desintegrasi bangsa, (4) ajaran moral dan berguna dalam mengatasi krisis multidimensi yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari dan (5) penanaman dan pengembangan sikap bertanggung jawab dalam memelihara keseimbangan dan kelestarian  lingkungan hidup.

Bagaimana mengimplementasikan nilai nilai tersebut di dalam proses pembelajaran  ?

a)  Pengertian dan manfaat Value Clarification Technique (VCT) –Teknik Klarifikasi Nilai

            Berdasarkan pendapat Piaget sebagaimana yang tersebut di atas, maka dianjurkan para guru sejarah menerapkan pendekatan VCT dalam proses pembelajarannya.  VCT adalah metode pendidikan nilai dimana siswa dilatih untuk antara lain : (1) menemukan, memilih, menganalisis, memutuskan, mengambil sikap sendiri terhadap nilai nilai hidup yang ingin diperjuangkan, (2)  dilatih untuk dapat mengkomunikasikan keyakinan, nilai-nilai kehidupan, cita-cita pribadi, (3) berlatih empati kepada teman-temannya meskipun teman-teman tersebut memiliki perbedaan.  (4) memecahkan persoalan yang berdilema moral, mendiskusikan masalah dan berlatih untuk setuju atau menolak keputusan kelompok, dan (5)  melatih siswa untuk dapat berdialog dan terlibat di dalam mengambil keputusan yang kemudian akan digunakan untuk mempertahankan atau melepas keyakinannya tersebut.

Apa yang ingin dicapai dari pendidikan nilai yang diajarkan melalui metode VCT ?

  • Pendidikan nilai yang diajarkan dengan metode ini akan membantu siswa untuk dapat berproses dan menyadari serta dapat mengidentifikasi nilai-nilai yang akan diyakini dan juga nilai-nilai yang dimiliki oleh orang lain
  • Pendidikan nilai yang diajarkan akan membantu siswa untuk dapat berkomunikasi secara terbuka dan jujur terhadap nilai yang diyakininya kepada orang lain
  • Pendidikan nilai yang diajarkan dapat membuat siswa mampu berpikiran rasional, dan dengan kesadaran emosionalnya dapat memahami dan menghayati nilai-nilai, sikap perilakunya sendiri.

 

Bagaimana menerapkannya dalam proses pembelajaran Sejarah ?

Pendekatan VCT menggunakan metode inkuiri (menemukan sendiri), diskusi kelompok, cooperative learning, analisis dilemma moral, problem solving, presentasi individu/kelompok, ceramah dan tanya jawab.  Kekuatan metode ini , adalah bahwa kepada siswa diberikan penghargaan dan kebebasan untuk memilih, menentukan nilai, sehingga dapat bertindak, bersikap berdasarkan kepada nilai pilihannya sendiri.

Penerapan VCT memang dilandasi dengan paradigma konstruktivisme, yaitu aliran filsafat pendidikan yang berpendapat bahwa knowledge atau pengetahuan merupakan hasil konstruksi  (bentukan) dari seseorang yang sedang belajar.  Maksudnya adalah bahwa setiap orang dapat membangun pengetahuannya sendiri, karena pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi tetapi merupakan sebuah “proses menjadi” (Suparno, dalam Adisusilo 2012).  Untuk dapat membangun pengetahuannya sendiri, siswa perlu memiliki kemampuan sebagai berikut :

  • Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalamannya
  • Kemampuan membendingkan, dan mengambil keputusan mengenai persamaan dan perbedaan tentang suatu hal
  • Kemampuan untuk menentukan pengalaman mana yang lebih disukai dibanding dengan yang lainnya

Agar terjadi dengan apa yang dimaksud dengan“proses menjadi” seperti yang dikemukakan di atas, maka penganut konstruktivistik ini menekankan kepada proses belajar yang harus dilakukan siswa seperti :

  • Dalam proses belajar siswa membangun pengetahuannya sendiri baik secara individual  maupun secara sosial
  • Pengetahuan tidak bisa dipindahkan dari guru ke siswa tanpa keaktifan siswa untuk menalar
  • Siswa harus aktif untuk mengkonstruksi pengetahuannya secara terus menerus, sehingga selalu akan terjadi perubahan konsep dari sederhana ke yang lebih kompleks dan sesuai dengan konsep ilmiah
  • Guru hanya membentu menyediakan sarana dan menciptakan situasi yang mendukung (fasilitator) agar proses dalam mengkonstruksi pengetahuan dapat berjalan dengan baik.

Kesimpulannya adalah ketika VCT diterapkan dan diperkaya dengan pemahaman paradigma konstruktuvistik di dalam proses pembelajaran maka belajar akan menjadi lebih bermakna, terlebih jika diterapkan dalam pembelajaran yang terkait dengan penerapan nilai-nilai dan moral. 

D.  Penutup

            Tawaran metode di atas mungkin bagi sebagian guru bukan merupakan hal yang baru, karena pada umumnya pembelajaran sejarah di sekolah telah menerapkan metode-metode yang kurang lebih memiliki alur yang sama. .  Tetapi khusus bagi pendidikan nilai, siswa sebaiknya menentukan sendiri pilihan nilai yang ditawarkan dan yang akan dikembangkan di dalam dirinya melalui materi yang sedang dipelajari. Bagi pembelajaran sejarah sebaiknya lebih banyak diberikan kasus kasus yang banyak memiliki dilemma moral, yang tentunya telah disiapkan guru sebelum pembelajaran dilaksanakan. Agar siswa menjadi terbiasa  turut berpikir aktif dalam menghadapi persoalan- persoalan moral yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari.  Sejumlah hambatan yang mungkin akan ditemui, dalam pembelajaran pendidikan karakter, yang diimplementasikan melalui mata pelajaran sejarah adalah  banyaknya materi yang harus diselesaikan dalam setiap semesternya tetapi dengan keterbatasan waktu tatap muka di kelas ( 45 menit/per minggu), jumlah siswa yang masih banyak dalam setiap rombongan belajar (40 siswa/kelas). Masih kuatnya diskriminasi mata pelajaran baik di sekolah sendiri atau di kalangan masyarakat yang sering membuat guru sulit berkreativitas.

 

Daftar Pustaka

Adisusilo.Sutarjo J.R. 2012,  Pembelajaran Nilai- Karakter. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada

Badudu,J.S,Sutan Muhammad. 1996  Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan

Koesoema.Doni,  2007, Pendidikan Karakter,Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, Jakarta: Grasindo

———————.2009. Pendidik Karakter di Zaman Keblinger, Jakarta: Grasindo

Johnson,Elaine B, 2002, Contextual Teaching and Learning. Thousand Oaks,California : Corwin Press.Inc.

Lickona.Thomas.2012. Mendidik Untuk Membentuk Karakter, Jakarta: Bumi Aksara

Suparno.P.1997, Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Sanjaya.Wina.2008. Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kecana Prenada Media Group

Undang-Undang nomor 20 tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional

Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan

 

 

 

 

CONTOH KASUS BERDILEMA MORAL DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH

PETUNJUK :

  1. 1.    Bacalah materi tentang Peristiwa Rengasdengklok dari berbagai sumber (inkuiri)
  2. 2.    Diskusikan materi tersebut dengan temanmu sebangku (cooperative learning), kemudian susun jalannya peristiwa secara kronologis
  3. 3.    Pilihlah satu atau dua karakter yang akan dikembangkan dalam diskusi nanti dari beberapa karakter yang ada berikut ini ( demokratis, semangat kebangsaan, toleransi, tanggung jawab, disiplin )–à bisa yang lainnya sesuaikan dengan silabus dan RPP.

 

 

Contoh kronologi :

 

                                   PERISTIWA RENGAS  DENGKLOK (1945)

 

  1. 14 Agustus      :  Jepang menyerah kepada Sekutu, berita ini dirahasiakan
  2. 15 Agustus      :  Indonesia berada dalam kondisi vacum of power, pemerintah Jepang di Tokyo memerintahkan kepada tentara Jepang yang masih berada di Indonesia untuk mempertahankan status quo, beberapa pemuda dapat mendengar berita tentang menyerahnya tentara Jepang tersebut.  Mereka  kemudian menemui Soekarno dan Hatta untuk mendesak agar proklamasi kemerdekaan segera dilaksanakan saat itu juga.  Soekarno menolak karena tetap akan menunggu hasil sidang PPKI.  Penolakan Soekarno dianggap golongan muda, bahwa Soekarno telah dipengaruhi oleh Jepang.  Kemudian golongan muda yang terdiri dari Soekarni, Yusuf Kunto, Chairul Saleh dan Syudanco Singgih menggelar rapat di gedung laboratorium mikrobiologi di Jl. Pengangsaan Timur, rapat memutuskan untuk membawa Soekarno dan Hatta ke luar kota agar tidak terkena pengaruh Jepang
  3. 16 Agustus  :  golongan muda rapat kembali pada pagi hari di asrama Baperpi dan memutuskan Soekarno- Hatta akan dibawa ke Rengasdengklok.  Pada sore harinya Ahmad Soebardjo menyusul ke Rengasdengklok, dan meyakinkan golongan muda bahwa Soekarno-Hatta pasti akan melaksanakan proklamasi kemerdekaan selambat-lambatnya esok hari.  Kata-kata Ahmad Soebardjo “ potong leher saya, selambat-lambatnya besok Soekarno dan Hatta akan memproklamasikan kemerdekaan”  Cudanco Subeno (Komandan Kompi Tentara Peta) dapat diyakinkan dengan kata kata tersebut, maka ia memperbolehkan Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta.

 

 

 

Dilema yang dihadapi Soekarno

  • Rapat PPKI belum  membahas tentang kapan proklamasi kemerdekaan akan dilaksanakan , Soekarno pelaksanaan proklamasi sebagai keputusan seluruh anggota PPKI ?
  • Menyerahnya Jepang kepada Sekutu terjadi lebih cepat dari perkiraan, Jepang belum memenuhi janjinya akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia
  • Situasi yang mendesak, proklamasi harus segera dilaksanakan sebelum tentara Sekutu datang ke Indonesia, untuk menerima penyerahan dari Jepang.
  • Tentara Jepang mendapatkan perintah untuk melaksanakan status quo sehingga sangat dimungkinkan terjadinya perlawanan mencegah terlaksananya proklamasi

Alternative 1 :  Jika  Soekarno menerima desakan golongan muda untuk melaksanakan proklamasi saat itu juga.

Konsekuensi 1

Akan terjadi pertumpahan darah, karena tentara Jepang akan melakukan pencegahan dan rakyat Indonesia akan memberikan perlawanan

Konsekuensi 2…………………………………………………………………………………….

Konsekuensi 3……………………………………………………………………………………

 

Alternative 2  :   Jika proklamasi kemerdekaan dilaksanakan setelah datangnya tentara Sekutu

Konsekuensi 1……………………………………………………………………………………

Konsekuensi 2……………………………………………………………………………………

Konsekuensi 3……………………………………………………………………………………

Sehingga manakah keputusan yang terbaik yang akhirnya diambil ?

Mengapa

 

 ———-à pilihan karakter dimunculkan, Soekarno menolak (demokratis) menunggu keputusan PPKI, agar pelaksanaan kemerdekaan merupakan hasil kesepakatan bersama. Tanggung jawab -à rasa tanggung jawab terhadap keberlangsungan Indonesia yang sudah saatnya untuk merdeka.  Tawaran karakter lainnya rasa kebangsaan, cinta tanah air, kerja keras.

 

(Nilai nilai yang ada dibalik materi ajar inilah yang diutamakan untuk dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari)


[1] Ratna Hapsari, Ketua Umum Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI), e-mail ratna.rudjito@gmail.com cell: 08158739089,  makalah disampaikan pada seminar yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Jakarta di Jakarta, Jumat  23 November 2012. 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s