WORKSHOP KESEJARAHAN NASIONAL

‘Kekuatan Peta’ dan Pengajaran Sejarah
Oleh: Didik Pradjoko

Ada banyak definisi tentang sejarah, salah satunya sejarah adalah proses adaptasi manusia dengan lingkungannya dari masa ke masa. Namun demikian ada hal yang penting untuk diperhatikan bahwa sejarawan menafsirkan ‘dunia’ sebagai peradaban bukan hanya dalam penertian lingkungan fisik saja. Selain kepedulian sejarawan terkait tempat adalah dimana sebuah peristiwa sejarah itu terjadi atau ‘why there?’ (Mitchell, 1960).
Dalam bukunya N Daldjoeni (1982:3) mengatakan bahwa untuk dapat mengerti sejarah dan menilai dengan baik berbagai peristiwa sejarah di masa lampau tidak akan cukup dipahami dengan ‘apa yang terjadi’ dan ‘kapan terjadinya’ tetapi juga yang juga penting ‘di mana terjadinya’. Karena segala peristiwa sejarah harus ditafsirkan terkait dengan lokasi kejadiannya agar dapat diperoleh analisa yang tajam tentang sebab-sebab dan dampaknya. Karena pada dasarnya sejarah kehidupan manusia merupakan rentetan tindakan manusia dalam menaklukkan alam atau menyesuaikan diri dengan alam. (Daldjoeni, I, 1982:3) Dengan demikian tempat geografi, lingkungan, lokasi di atas permukaan bumi perlu dipahami dengan baik. Untuk itulah sebuah peta sangat diperlukan untuk memahami hubungan peristiwa sejarah dan tempat dimana terjadinya peristiwa tersebut. Karena bagi banyak orang bahwa lingkungan geografi tidak dapat dibayangkan tanpa bantuan peta.
Sebuah peta pada dasarnya merupakan gambaran sebagian besar atau sebagian kecil permukaan bumi yang dipindahkan ke atas suatu bidang datar. Dalam Kamus Oxford, peta didefinisikan sebagai ; ‘map’ as a ‘flat representation of the Earth’s surface or part of it’ (Richard, 1999). Peta merupakan alat komunikasi atau alat untuk menyampaikan informasi spasial di permukaan bumi. Peta dapat menggambarkan obyek yang dipetakan dalam sebaran ruang. Oleh karena permukaan bumi merupakan bidang lengkung maka tidak mungkin menggambar permukaan bumi dalam bidang datar tanpa mengalami perubahan bentuk, seperti penggunaan skala, dan membuat simbol-simbol obyek. (Munandar.dkk, 2006: 57-58)
‘Kekuatan sebuah peta’ menurut N. Richard adalah bahwa peta dapat membantu memfasilitasi sebuah kelompok masyarakat untuk mengontrol atau mempengaruhi kelompok lainnya, terutama terkait tentang kekuasaan, karena peta adalah media yang ‘powerful’ untuk dapat mempengaruhi kebayakan orang untuk menerimanya sebagai suatu kenyataan. (Richard, 1999) Dalam konflik-konflik diantara etnis dan bangsa-bangsa di dunia, adanya peta-peta wilayah yang saling bertumpang tindih atau saling klaim wilayah dapat menimbulkan permasalahan yang selalu muncul dalam sejarah umat manusia. (kasus penguasan orang kulit putih di Amerika dan Australia). Richard mencontohkan peta ‘British Empire’ cetakan tahun 1960 yang masih menggambarkan wilayah India, Rhodesia/Zimbabwe dan Afrika Selatan sebagai wilayah imperium Inggris. Sengketa wilayah antara Israel dan Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat Sungai Yordan juga menggambarkan tentang saling klaim wilayah di antara keduanya.
Dalam abad-abad yang lalu, permukaan bumi baik daratan dan lautannya merupakan subyek yang diperebutkan, terjadi saling klaim untuk dikuasai, untuk dimanfaatkan sumberdaya alam dan manusianya. Dalam hal ini peta memegang peranan yang penting bagi sebuah negara/imperium untuk melegitimasi klaimnya atas ruang darat dan laut tersebut. Sebagai contoh dalam kasus perebutan samudra pada akhir abad ke-16, Belanda dan Inggris tidak mengakui perjanjian Saragossa, 1529, antara Spanyol dan Portugal yang membagi dunia atas wilayah utara dan selatan di Kawasan Kepulauan Hindia Timur. Atau doktrin ‘terra nullius’/tanah yang kosong yang diberikan Inggris untuk benua Australia sejak James Cook mendeklarasikan wilayah pantai tenggara New Holland/Australia tahun 1770.

Dengan latar belakang uraian tentang ‘kekuatan peta’ di atas tentunya dapat kita jadikan suatu renungan, karena kadang-kadang kita suka sekali meremehkan peta atau atlas sebagai kumpulan peta dengan beragam tema dan cakupan. Kondisi dilapangan masih banyak mahasiswa yang masih belum memahami peta Indonesia dengan baik, banyak yang tidak tahu lokasi dan nama pulau, selat, laut, dan lainnya. Kondisi ini tentunya sangat memprihatinkan karena banyaknya masyarakat kita yang masih buta Indonesia, wajar kalau kita kehilangan pulau dan laut tanpa disadari oleh masyarakat Indonesia. Untuk itulah penyebar luasan tentang pemahaman peta dikalangan generasi muda sangat perlu ditingkatkan.Untuk itulah diperlukan peran para guru dan elemen masyrakat lainnya untuk menjadi ujung tombak dalam ‘proyek’ besar tersebut. Apalagi bagi para guru sejarah yang juga ikut bertanggung jawab dengan memberikan pemahaman sejarah baik Indonesia maupun dunia dengan memanfaatkan media peta atau atlas sejarah yang sudah diterbitkan. Untuk Sejarah Indondesia, kita mencatat karya M. Yamin yaitu Atlas Sedjarah (Djambatan,1956) dan sejak tahun 2000 terbit karya Sejarawan Robert Cribb, Historical Atlas of Indonesia (Hawaii University Press, 2000). Sementara versi digitalnya diluncurkan tahun 2010 oleh NIAS Press. Sementara itu Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional juga menerbitkan Atlas Nasional Indonesia Jilid III, tema: Sejarah, Wilayah, Penduduk, budaya dan Bahasa (2011).
Melihat kekuatan dan arti penting peta, mau tidak mau para sejarawan dan guru sejarah sangat dianjurkan/wajib menggunakan media peta dalam pembelajaran sejarah di kelas. Karena seperti definisi sejarah diatas bahwa sangat penting untuk menganalisa mengapa sebuah peristiwa sejarah terjadi di wilaya tersebut. Sebagai contoh mengapa wilayah Mesopotamia di daerah Iraq dan sekitarnya menjadi daerah yang cocok bagi kemunculan peradaban besar dunia? Seperti kita ketahui bahwa daerah tersebut termasuk wilayah ‘Bulan Sabit Subur/The Fertile Crescent’ yang sangat subur sehingga memancing serangan bangsa-bangsa dari luar Mesopotamia.

Penggunaan peta sejarah dalam pembelajaran sejarah dunia sangat dianjurkan, karena bagaimanapun ada banyak perbedaan karakteristik wilayah di Bumi ini yang sangat mempengaruhi bagaimana cara hidup mereka termasuk apa yang mereka makan. Kalau dijelaskan per periode dalam sejarah dunia tentunya akan sangat panjang. Namun demikian kita dapat mengambil pokok-pokok tema misalnya mengapa Rusia menjalankan politik Laut Hangat (warm sea policy) sejak berabad yang lalu. Atau ekspansi peradaban Islam di Asia Barat dan Afrika Utara.

Untuk Sejarah Indonesia, Karya Robert Cribb, Historical Atlas of Indonesia, merupakan karya yang harus dirujuk noleh para sejarawan, dosen dan guru sejarah untuk kelengkapan mengajar sejarah Indonesia. Buku ini kaya akan peta-peta sejarah yang dapat dipergunakan dalam pengajaran sejarah Indonesia dengan membuat hasil scanning atau kita dapat menggunakan versi digitalnya yang diluncurkan sejak tahun 2010. Dalam bukunya tersebut Cribb, membaginya atas lima tema;
1. Landscapes and Environment
2. Peoples (Ethnics, Language, Religion, Migration, Cities, population)
3. States and Polities until 1800
4. The Netherlandsch Indies, 1800-1942
5. War, Revolution and Political Transformation, 1942 to the present
Peta-peta dalam buku Cribb tersebut sangat penting untuk dipergunakan dalam pengajaran sejarah di kelas-kelas baik di perguruan tinggi maupu di sekolah-sekolah. Untuk itu dituntut bagi para pengajar sejarah untuk selalu menyertakan peta sejarah dalam materi-materi sejarah yang akan diajarkan kepada mahasiswa atau siswa. Selain memberikan pemahaman yang lebih komprehensif dalam pengajaran sejarah, peta dalam berbagai kegunaannya dapat menjadikan generasi muda Indonesia yang ‘melek peta’ karena bangsa yang besar membutuhkan masyarakatnya yang jauh dari ‘buta peta’. Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang menyadari arti penting peta, karena peta sesungguhnya juga petunjuk jalan yang tidak akan membuat kita tersesat atau salah arah.

Beberapa Contoh Peta Sejarah dari Karya Robert Cribb, versi digital, 20

Daftar Rujukan

Bakosurtanal, Atlas Nasional Indonesia III; Sejarah, Wilayah, Penduduk, budaya dan Bahasa, Bogor 2011
Bryan, Joe, Maps and Power: Review, Journal Political Geography, Departement of Geography, University of Colorado, USA
Cribb, Robert, Historical Atlas of Indonesia, Honolulu, University of Hawaii Press, 2000
Daldjoeni, N., Geografi Kesejarahan I: Peradaban Dunia, Bandung, Penerbit Alumni, (edisi I 1982,1995
Daldjoeni, N., Geografi Kesejarahan II: Indonesia, Bandung, Penerbit Alumni, 1984
Mitchell, J.B. , Historical Geography, The English Universities Press Limited, London, 1960
Munandar, Agus Aris,dkk. Pedoman Kajian Geografi Sejarah Indonesia, Jakarta, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 2006
Richard, N., ‘Maps: Are They Instruments of Power?’, School of Geography, Flinder University, Adelaide, Australia, 1999

 

DSC_0077 DSC_0078 DSC_0079 DSC_0080 DSC_0081 DSC_0082 DSC_0083

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s