WORKSHOP KESEJARAHAN NASIONAL

PENDIDIKAN SEJARAH DALAM KURIKULUM 2013:
MASALAH DAN TANTANGAN

 

 

S. HAMID HASAN
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Ketua Tim Pelaksana Pengembangan Kurikulum 2013

 

Dikemukakan pada:
Workshop Kesejarahan Tingkat Nasional
Direktorat Sejarah
Direktorat Jenderal Kebudayaan
Kementerian Pendidikan Dan Kebudayan

Cipanas, 20 Mei 2014
PENDAHULUAN
Berdasarkan ketetapan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 67 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah, Nomor 68 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah, Nomor 69 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah, Nomor 70 tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan, maka mulai tahun ajar 2013-2014 SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK melaksanakan Kurikulum 2013. Pada tahun pertama tersebut Kelas I, IV, VII, dan X sejumlah sekolah yang ditunjuk untuk melaksanakan Kurikulum 2013. Pada tahun ajar 2014-2015, Kelas I, II, IV, V, VII, VIII, X, dan XI seluruh sekolah di seluruh Indonesia direncanakan akan melaksanakan Kurikulum 2013. Pada tahun ajar 2015-2016 seluruh kelas dan seluruh sekolah direncanakan telah melaksanakan Kurikulum 2013.
Kurikulum 2013 membawa perubahan fundamental dunia pendidikan di Indonesia. Pertama, Kurikulum 2013 meluruskan pengertian standar yang berbeda dari kurikulum. Standar bukan kurikulum dan dikembangkan sebagai patokan minimal yang harus dicapai kurikulum. Standar yang langsung terkait dengan kurikulum adalah standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, dan standar penilaian hasil belajar.
Kedua, Kurikulum 2013 merevisi pengertian kurikulum yang dianut kurikulum sebelumnya dimana kurikulum diartikan sebagai daftar mata pelajaran menjadi kurikulum sebagai program pendidikan untuk suatu jenjang pendidikan atau unit sekolah. Dari sudut pandangan kurikulum, perubahan ini sangat fundamental dan memiliki dampat yang luas dalam struktur dan desain konten kurikulum. Untuk menerapkan pengertian tersebut, struktur kurikulum dan desain Kurikulum 2013 menjamin terjaganya organisasi vertikal antar kelas dan satuan pendidikan serta organisasi horizontal yaitu keterkaitan konten antar satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain.
Ketiga, Kurikulum 2013 mengubah landasan pendidikan dari pendidikan yang mengutamakan pengembangan kemampuan kecerdasan intelektual dan rasional ke pendidikan yang mengembangkan seluruh potensi kemanusiaan peserta didik secara utuh dan berimbang antara sikap, pengetahuan, dan ketrampilan sesuai dengan rumusan yang tercantum dalam Tujuan Pendidikan Nasional. Dalam prinsip pembelajaran, Kurikulum 2013 mengubah teori belajar yang digunakan dari behaviourisme dimana unsur pengukuran sangat dominan dan menentukan proses pembelajaran serta ditetapkan secara kaku dalam rumusan indikator hasil belajar yang harus terukur, teramati, dan spesifik. Kurikulum 2013 menggunakan berbagai teori belajar seperti kognitif, progresif, humanisme, konstruktivisme tanpa mengabaikan behaviourisme (Oliva,1997)
Keempat, Kurikulum 2013 menggunakan berbagai filosofi pendidikan yang sesuai dengan kualitas peserta didik yang dirumuskan dalam Tujuan Pendidikan Nasional. Dalam upaya memberikan landasan filosofi yang dapat memberikan landasan bagi kurikulum maka Kurikulum 2013 menggunakan filosofi esensialisme yang menekankan pada pengembangan kemampuan berpikir intelektual, filosofi perenialisme yang menekankan pada pengembangan kemampuan rasional, filosofi humanisme yang menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar dan memberikan kebebasan dalam mengembangkan kreativitas dalam berpikir, filosofi rekonstruksi sosial yang memungkinkan sekolah dan masyarakat dalam suatu kolaborasi baik sebagai sumber untuk mengembangkan potensi peserta didik mau pun dalam bentuk kontribusi peserta didik dalam meningkatkan kehidupan masyarakat baik langsung mau pun tidak langsung (Tanner dan tanner, 1980; Schubert, 1984). Berdasarkan semua filosofi tersebut, Kurikulum 2013 didasarkan pada filosofi pendidikan yang mengatakan bahwa pendidikan harus berakar pada budaya, menjadi media untuk pewarisan budaya dan mengembangkan budaya.
Kelima, Kuirkulum 2013 menerapkan model kurikulum berbasis kompetensi secara utuh. Dalam Kurikulum 2013 kompetensi dikembangkan melalui proses pembelajaran yang memberi kesempatan luas kepada peserta didik untuk menguasai kompetensi melalui waktu yang cukup, proses pembelajaran yang menekankan kepada peserta didik untuk aktif mencari tahu, dan penilaian yang memberikan penghargaan terhadap pencapaian sikap-pengetahuan-ketrampilan.

PRINSIP PENDIDIKAN SEJARAH DALAM KURIKULUM 2013
Pendidikan Sejarah dalam Kurikulum 2013 didasarkan pada prinsip sebagai berikut:
• Pengetahuan masa lalu digunakan untuk mengenal dan memahami kehidupan masa kini dan membangun kehidupan masa depan. Dalam prinsip ini peserta didik diajak untuk menggunakan tiga dimensi waktu sejarah (masa lalu, kini, yang akan datang) dalam belajar peristiwa sejarah. Sejarah tidak berhenti pada masa lalu tetapi berkelanjutan dalam kehidupan masa kini dan pada kehidupan masa depan. Kehidupan masa kini mewarisi apa yang sudah dihasilkan dari masa lalu. .
• Pengetahuan masa lampau dibangun atas dasar pemahaman dan analisis terhadap fakta sejarah, dikembangkan berdasarkan penerapan hukum kausalita, perubahan dan kesinambungan. Fakta sejarah dikumpulkan dari sumber sejarah. Untuk mendapatkan sumber yang layak dipercaya, informasi yang sahih dari sumber diperlukan kemampuan melakukan kritik sumber. Proses pembelajaran memberikan pengalaman belajar untuk memahami dan mampu menggunakan berbagai istilah/konsep sejarah seperti perubahan dan kesinambungan, interpretasi sejarah, rekonstruksi peristiwa dan cerita sejarah, dan sebagainya.
• Keberlanjutan sejarah pada kehidupan masa kini yang perlu diidentifikasi dari peninggalan berupa artefak dan fosil, kebiasan-kebiasaan, cara berpikir, sikap hidup, ideologi, sistem pemerintahan, dan sebagainya. Berbagai aspek kehidupan tersebut ada yang dapat dan perlu dilanjutkan, dikembangkan bagi kehidupan masa depan tetapi ada juga yang sudah tidak dapat dipertahankan.

TUJUAN PENDIDIKAN SEJARAH
Kurikulum 2013 mengubah tujuan yang selama ini terkungkung pada pemahaman berbagai peristiwa sejarah menjadi tujuan yang mengembangkan kemampuan berpikir sejarah, kemampuan menerapkan ketrampilan sejarah, mengembangkan nilai-nilai kebangsaan, dan sikap religius tanpa mengabaikan hafalan tentang fakta penting dan peristiwa penting sejarah. Kemampuan dan sikap itu dikembangkan sebagai kompetensi yang digunakan untuk belajar berbagai peristiwa sejarah. Lebih lanjut, dengan cara berpikir sejarah dan ketrampilan sejarah serta sikap historis yang dimiliki, peserta didik mampu menghasilkan “her/his own history” (Boris,2001).
Dengan perubahan tujuan ini maka berbagai kemampuan yang seharusnya dimiliki peserta didik yang belajar sejarah, sebagaimana yang banyak diungkapkan para pemikir pendidikan sejarah (Cooper, 1992; Hasan, 2001, 2010b; Husband, Kitson, Pendry, 2003; Wineburg, 2001) terealisasikan dalam Kurikulum 2013. Melalui perubahan ini kesan dan kenyataan bahwa pendidikan sejarah terlalu terfokuskan pada kemampuan menghafal fakta dan peristiwa (Hasan, 2010a) akan berubah menjadi mata pelajaran yang mampu memberikan kemampuan menghubungkan masa lampau dengan masa kini dan masa yang akan datang ((Hasan, 1999; Hasan, 2010b; Oliva, 1997; Wineburg, 2001).
Tujuan pendidikan Sejarah dirumuskan sebagai berikut:
• Mengembangkan pemahaman tentang diri sendiri, masyarakat, dan bangsanya (memori kolektif sebagai bangsa).
• Mengembangkan rasa kebangsaan, cinta tanah air dan penghargaan terhadap hasil dan prestasi bangsa.
• Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya konsep waktu ruang, perubahan dan kesinambungan dalam berpikir kesejarahan.
• Mengembangkan kemampuan berpikir sejarah (historical thinking), ketrampilan sejarah (historical skills), dan wawasan terhadap isu sejarah (historical issues), serta menerapkan kemampuan, ketrampilan dan wawasan tersebut dalam kehidupan masa kini
• Mengembangkan perilaku yang didasarkan pada nilai dan moral yang mencerminkan karakter diri, masyarakat dan bangsa.
• Menanamkan sikap berorientasi kepada masa kini dan masa depan.
• Memahami dan mampu menangani isu-isu kontroversial untuk mengkaji permasalahan yang terjadi di lingkungan masyarakatnya.
• Mengembangkan pemahaman internasional dalam menelaah fenomena aktual dan global.

.
POSISI PENDIDIKAN SEJARAH DALAM KURIKULUM 2013 SMA DAN SMK
Posisi pendidikan sejarah dalam struktur Kurikulum 2013 SMA, dan SMK adalah sebagai berikut:

Mata pelajaran Satuan Pendidikan
Sejarah Indonesia SMA/MA/SMK
Sejarah SMA

Mata pelajaran Sejarah Indonesia berstatus mata pelajaran wajib bagi seluruh peserta didik SMA, MA, dan SMK. Mata pelajaran Sejarah adalah mata pelajaran wajib bagi peserta didik di kelompok peminatan Ilmu-ilmu Sosial dan merupakan mata pelajaran pilihan bagi merek yang di kelompok peminatan Matematika dan Ilmu Alam dan juga mereka yang di kelompok Ilmu Budaya dan Bahasa.

MATERI PENDIDIKAN SEJARAH
Materi pendidikan Sejarah bersifat abstrak karena mengandung konsep yang tingkat abstraksinya cukup tinggi seperti masa lalu, kronologis, peristiwa, kerajaan, penyebab, akibat, bahkan konsep waktu seperti masa lalu, tahun, abad yang jaraknya dari kehidupan peserta cukup jauh, sampai ribuan tahun. Bagi peserta didik SMA/SMK tentu sudah dapat memahami dan menggunakan konsep-konsep tersebut dan oleh karenanya itu kemampuan berpikir sejarah sudah sepenuhnya dapat dikuasai pada jenjang kemampuan yang cukup baik untuk digunakan dalam kehidupan dan memasukipendidikan di perguruan tinggi..
Faktor pedagogis yang turut menentukan materi ajar pendidikan sejarah adalah tujuan pendidikan sebagai upaya sadar dan terencana dalam mengembangan potensi peserta didik untuk menjadi warganegara yang religius, produktif, kreatif, kemampuan berpikir intelektual tinggi, pembelajar yang mandiri (pendidikan sepanjang hayat), memiliki kepedulian sosial, cinta tanah air, memiliki patriotisme tinggi, mampu berkontribusi bagi peningkatan kehidupan masyarakat, yang lebih baik (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional) . Tujuan tersebut menempatkan pendidikan sejarah tidak selalu dalam posisi sebagai suatu kajian keilmuan yang bebas nilai tetapi justeru penuh dengan nilai-nilai pedagogis. Kemasan pedagogis memberi warna yang cukup menentukan bentuk pendidikan sejarah dalam struktur kurikulum. Dalam konteks ini maka materi pendidikan sejarah tidak selalu menggunakanmateri sejarah formal dan akademik sebagaimana yang dihasilkan para sejarawan. Pandangan dan interpretasi resmi pemerintah terhadap suatu peristiwa sejarah (official history) menjadi dominan. Semakin rendah jenjang pendidikan, semakin tinggi tingkat dominasi pandangan dan interpretasi resmi pemerintah.
.
Untuk mata pelajaran Sejarah Indonesia, kemampuan berpikir abstrak peserta didik sudah berkembang memberikan kemudahan bagi mereka untuk lebih mendalami berbagai konsep dan peristiwa sejarah serta perluasannya dalam tema-tema. Dalam kajiannya, peserta didik dituntut untuk lebih memperdalam kajian peristiwa sejarah Indonesia dan dikaitkan dengan kejadian di lokal mereka tinggal (kecamatan, kabupaten/kota, dan propinsi) dalam suatu masa yang sama. Pemahaman masa praaksara di Indonesia diperkaya dengan kajian peninggalan praaksara di lokal tempat tinggal peserta didik, pemahaman masa Hindu-Buddha di Indonesia diperkaya dengan kajian peninggalan Hindu-Buddha (agama, kerajaan, artefak, tradisi, sinkretis dalam kepercayaan, nama orang dan benda, dan sebagainya) di lokal tempat tinggal peserta didik. Pemahaman masa Islam di Indonesia diperkaya dengan kajian peninggalan kekuasaan dan penyebaran Islam (agama, kerajaan, artefak, tradisi, sinkretis dalam kepercayaan, nama orang dan benda, dan sebagainya) di lokal tempat tinggal peserta didik. Demikian pula dengan pemahaman terhadap masa-masa sesudahnya yang tentu ditandai oleh peninggalan yang lebih beragam dan bahkan untuk masa pergerakan kemerdekaan dan sesudahnya kemungkinan peserta didik masih dapat berkomunikasi dengan para pelaku di daerah tersebut. Kemungkinan untuk bertemu dengan mereka yang hidup atau pelaku sejarah pada masa akhir penjajahan Hindia Belanda dan masa kekuasaan militer Jepang tentu masih ada. Kemungkinan itu semakin besar untuk masa-masa yang lebih belakangan (kemerdekaan apalagi pada masa orde lama, orde baru, dan reformasi dimana peserta didik di jenjang pendidikan menengah mengalami perubahan itu sebagai subjek sejarah).
Selain berkenaan dengan kajian peristiwa sejarah yang “sistematik-kronologis” dari masa praaksara sampai ke reformasi, materi kajian Sejarah Indonesia di kelas XII memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan kajian peristiwa sejarah dalam tema-tema tertentu. Peserta didik kelas XII mendapat kesempatan mempelajari sejarah dari kajian tematis seperti peran pelajar, mahasiswa dan tokoh masyarakat dalam perubahan politik dan ketatanegaraan Indonesia, kontribusi bangsa Indonesia dalam perdamaian dunia antara lain ASEAN, Non Blok, dan Misi Garuda, serta perubahan demokrasi Indonesia dari tahun 1950 sampai dengan era Reformasi. Bentuk kajian terakhir ini memperkaya materi pendidikan sejarah dengan warna yang dapat menambah ketertarikan peserta didik terhadap sejarah tetapi juga dengan memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan terpusat (spesifik) pada suatu aspek kehidupan bangsa.
Sebagaimana telah dikemukakan di atas, mata pelajaran Sejarah dalam Kurikulum 2013 diperuntukkan bagi mereka yang memilih kelompok Ilmu-ilmu Sosial sebagai mata pelajaran wajib, dan sebagai mata pelajaran pilihan dari peserta didik dalam kelompok peminatan Matematika dan Ilmu Alam serta kelompok peminatan Ilmu Budaya dan Bahasa. Dengan posisi demikian, mata pelajaran Sejarah terbuka bagi setiap peserta didik SMA. Pada dasarnya mata pelajaran ini disiapkan untuk mereka yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dalam program studi sejarah. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMA tercantum KD yang meliputi kajian keterkaitan antara manusia dan sejarah, sejarah sebagai ilmu, berpikir sejarah, sumber sejarah, penelitian dan penulisan sejarah sebagai kompetensi awal yang harus dikuasai peserta didik untuk digunakan dalam mempelajari peristiw sejarah dalam mata pelajaran ini. Peristiwa sejarah yang ada dalam mata pelajaran Sejarah tidak terbatas pada peristiwa sejarah di Indonesia tetapi juga berbagai peristiwa sejarah di dunia yang berpengaruh terhadap kehidupan bangsa Indonesia dan ummat manusia. Pendekatan sejarah tematis digunakan juga dalam mata pelajaran Sejarah berkenaan dengan kajian seperti Ideologi, Perang Dunia dan Pengaruhnya Terhadap Gerakan Kemerdekaan di Asia dan Afrika, Perang Dingin dan Perubahan Politik Global, dan Revolusi Teknologi Abad ke 20.

PROSES PEMBELAJARAN PENDIDIKAN SEJARAH
Proses pembelajaran pendidikan sejarah dikembangkan berdasarkan pendekatan saintifik. Pendekatan ini berlaku bagi setiap mata pelajaran dan dirancang untuk mengembangkan kemampuan belajar dan berpikir peserta didik. Pendekatan ini juga digunakan untuk memberi kesempatan luas kepada peserta didik secara aktif mengembangkan kemampuan mereka mencari tahu. Dengan demikian pendekatan saintifik dalam Kurikulum 2013 merupakan salah satu varian pendekatan pembelajaran siswa aktif.
Pendekatan pembelajaran saintifik mengenal adanya lima langkah kegiatan tetapi tidak merupakan suatu sintaks. Kelima langkah tersebut adalah langkah pengembangan kompetensi yang memiliki tingkat kesulitan yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan kemampuan peserta didik. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 64 Tahun 2013 Tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah, bagi peserta didik SMA tingkat kesulitan tersebut terdiri atas jenjang kompetensi 5 untuk kelas X-XI dan jenjang 6 untuk kelas XII. Pada jenjang kompetensi 5 peserta didik kelas X-XI diharapkan memiliki kemampuan “mengevaluasi suatu peristiwa sejarah berdasarkan kesahihan sumber dan bias penafsiran sejarawan, mengkaji peristiwa masa kini berdasarkan latar belakang sejarah, dan menulis suatu peristiwa sejarah dari sumber yang memiliki penafsiran sejarah yang sama.” Pada jenjang kompetensi 6,peserta didik kelas XII SMA diharapkan memiliki kemampuan Menggunakan konsep-konsep sejarah secara kritis dalam mengevaluasi sebuah karya sejarah, mengevaluasi interpretasi sejarah dari sejarawan yang berbeda sudut pandang dan interpretasi sejarahnya, dan merekonstruksi peristiwa sejarah berdasarkan sumber sejarah yang berbeda dalam interpretasi sejarah.

Langkah-langkah pembelajaran saintifik terdiri atas mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menganalisis, dan mengomunikasikan. Setiap peserta didik harus menguasai kelima langkah tersebut sebagai kompetensi belajar.
Untuk mengaktifkan pendekatan pembelajaran saintifik, proses pembelajaran mata pelajaran Sejarah Indonesia dan mata pelajaran Sejarah didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut.
Mata pelajaran Sejarah Indonesia:
• Cara berpikir sejarah dikembangkan sebagai kemampuan/kompetensi yang digunakan peserta didik dalam mempelajari berbagai peristiwa Sejarah Indonesia. Artinya peserta didik mempelajari peristiwa sejarah indonesia bukan sebagai bahan hafalan lagi tetapi sebagai suatu kajian yang didasarkan pada kemampuan berpikir sejarah yang dimilikinya.
• Pengenalan diri dan masyarakat dikembangkan melalui kajian terhadap peristiwa Sejarah Nasional dan peristiwa yang terjadi di lokal (desa, kecamatan, kota/kabupaten/ propinsi) dalam satu poros waktu dan periode. Pada waktu peserta didik belajar mengenai suatu periode atau zaman, misalkan zaman Hindu-Buddha, peserta didik tidak hanya belajar tentang kerajaan Hindu-Buddha yang ada di tempat lain di Indonesia tetapi juga mempelajari peninggalan kesenian, kebudayaan, kepercayaan dan sebagainya yang masih diwarisi dirinya atau masyarakat dari zaman Hindu-Buddha. Untuk wilayah dimana pengaruh tersebut sangat kuat seperti Bali, Mataram, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur aspek yang dapat dikaji dari pengaruh tersebut tentu sangat luas. Untuk masuknya Islam dan Kerajaan Islam, mereka memperkaya kajian peristiwa di tingkat nasional dengan apa peristiwa di wilayah terdekatnya melalui kajian terhadap sumber tertulis, artefak, tradisi, nara sumber (merekayang mempelajari sejarah lokalnya), dan buku-buku yang pernah tertulis dan tersedia.
• Peristiwa sejarah di lokal dipelajari dalam kaitannya dengan peristiwa dalam sejarah nasional. Peristiwayang terjadi di suatu lokal tidak dipelajari sebagai sesuatu yang utuh dan terpisah tetapi sebagai suatu bagian dan terkait dengan peristiwa sejarah nasional. Misalkan, pada waktu membahas proklamasi kemerdekaan indonesia maka peserta didik diajak untuk mempelajari apa yang terjadi di daerahnya pada waktu itu sebagai tanggapan atas proklamasi di jakarta, siapa para pelaku sejarah di lokal tersebut, apa yang mereka lakukan, dan bagaimana dampaknya, dan sebagainya.
• Prinsip yang sama digunakan juga untuk mempelajari para tokoh sejarah di daerah. Mereka harus mengenal tokoh di lingkungan lokalnya baik yang diabadikan dalam nama jalan mau pun yang belum/tidak. Bagi peserta didik SD dan SMP, mereka perlu belajar tentang tokoh dalam sejarah nasional dan lokal yang hidup dan berjuang dalam kurun waktu yang sama, pikiran dan cita-cita yang sama . Untuk peserta didik SMA/SMK, tokoh lokal untuk suatu periode tertentu dipelajari bersamaan dengan mempelajari tokoh nasional dan peserta didik diajak untuk membandingkan persamaan dan perbedaan dalam pemikiran dan tindakan di antara tokoh-tokoh tersebut, hubungan (komunikasi) antar tokoh-tokoh tersebut.
• Pembelajaran Sejarah dapat dilakukan melalui pembelajaran proyek dimana sejak awal semester peritiwa-peritiwa sejarah yang dipelajari dalam semester tersebut dibagi sebagai proyek yang harus dikerjakan peserta didik atau sekelompok peserta didik dalam setengah atau satu semester. Pertemuan mingguan digunakan untuk membahas kemajuan dan kesulitan peserta didik dalam melaksanakan proyeknya. Pembelajaran proyek dapat dilakukan ketika peserta didik sudah memiliki ketrampilan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengolah informasi/merekonstruksi, dan menuis cerita sejarah.
• Model pembelajaran proyek dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan regresif (waktu mundur dari masa sekarang ke masa lalu) dan juga progresif (waktu maju dari masa lalu ke sekarang) untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai suatu suatu masalah-masalah tertentu di masa kini.

Pengembangan pembelajaran berdasarkan pendekatan saintifik dalam mata pelajaran Sejarah Indonesia adalah sebagai berikut:
Mata Pelajaran Sejarah
• Cara berpikir dan ketrampilan sejarah dipelajari sebagai kemampuan/kompetensi yang digunakan peserta didik dalam mempelajari peristiwa sejarah. Pelajaran sejarah tidak lagi menjadi pelajaran yang hanya menghafal fakta dan cerita sejarah tetapi beralih kepada pengembangan cara berpikir , ketrampilan, dan nilai melalui kegiatan mengamati, menanya, mengumpukan informasi, mengolah/rekonstruksi, dan mengomunikasikan hasl rekonstruksi. Dengan pembelajaran ini mereka mampu membuat cerita sejarah mereka.
• Peristiwa sejarah dipelajari dalam suatu proses belajar yang mengaktifkan peserta didik belajar menari makna suatu peristiwa sejarah, berbagai peristiwa sejarah dalam suatu periode, berbagai peristiwa sejarah dalam beberapa periode sejarah, dan menghubungkannya dalam kehidupan nyata masa kini. Sejarah bukan lagi pelajaran tentang masa lalu yang berhenti pada masa lalu dan tidak terkait dengan kehidupan masa kini tetapi peristiwa masa lalu hidup dan berkembang dalam kehidupan masa kini. Nama, tradisi, cara berpikir, benda-benda budaya, sistem budaya, kesenian, ekonomi, pendidikan, politik, ilmu dan teknologi adalah bukti-bukti sejarah yang masih hidup pada masa kini. Sejarah berhubungan kehidupan manusia dalam berbgai dimensi kehidupan yang terus berkelanjutan dari masa lalu ke masa sekarang serta dilanjutan ke masa mendatang.
• Kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia tidak terkucil dari pengaruh dan berpengaruh terhadap kehidupan ummat manusia. Berdasarkan pemikiran tersebut maka peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di luar Indonesia (Asia, Afrika, Australia Eropa, Amerika) dipelajari sebagai peristiwa yang berpengaruh dalam kehidupan bangsa Indonesia dalam ekonomi, sosial, budaya, ideologi, politik, pendidikan, dan sebagainya. Peristiwa Sejarah Indonesia dan peran bangsa Indonesia dalam membentuk kehidupan baru masyarakat dunia dalam kemerdekaan, ekonomi, keamanan, pendidikan,dan sebagainya, dipeajarisebagai suatu sumbangan bangsa terhadap peradaban dunia. Cengkeh Indonesia yang selama ini dipelajari sebagai komoditi yang mendatangkan imperialisme Eropa dapat dipelajari sebagai suatu komoditas Indonesia yang memberikan kontribusi pada berbagai aspek kehidupan orang-orang Eropa seperti politik, ekonomi, sosial, teknologi sehingga kedudukan bangsa Indonesia adalah sebagai subjek dan bukan hanya objek dan panggung sejarah orang-orang Eropa.
• Pengembangan kemampuan berpikir sejarah, ketrampilan sejarah, dan isu sejarah dipelajari melalui penerapan pendekatan pembelajaran saintifik (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengolah informasi/rekonstruksi, dan mengomunikasikan (menulis cerita sejarah)
• Pembelajaran Sejarah dapat dilakukan melalui pembelajaran proyek dimana sejak awal semester peristiwa-peristiwa sejarah yang dipelajari dalam semester tersebut dibagi sebagai proyek yang harus dikerjakan peserta didik atau sekelompok peserta didik dalam setengah atau satu semester. Pertemuan mingguan digunakan untuk membahas kemajuan dan kesulitan peserta didik dalam melaksanakan proyeknya. Pembelajaran proyek dapat dilakukan ketika peserta didik sudah memiliki ketrampilan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengolah informasi/merekonstruksi, dan menuis cerita sejarah.
• Model pembelajaran proyek dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan regresif (waktu mundur dari masa sekarang ke masa lalu) dan juga progresif (waktu maju dari masa lalu ke sekarang) untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai suatu peristiwa sejarah. Model pembelajaran regresif hanya digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi masa kini.

PENILAIAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN SEJARAH
Penilaian Hasil Belajar mata pelajaran Sejarah Indonesia berfokus pada penilaian kemampuan berpikir sejarah, kemampuan menggunakan kemampuan berpikir sejarah, menghubungkan peristiwa sejarah Nasional dengan daerah, pengetahuan sejarah dan kemampuan menggunakan pengetahuan sejarah (mengenal bangsa dan keunggulan bangsa), sikap (religius, rasa kebangsaan, semangat persatuan, cinta tanah air, kreatif, menghargai perbedaan, dan mengembangkan tindakan kepahlawanan), mau menggunakan pelajaran dari sejarah untuk membangun kehidupan bangsa yang produktif.
Penilaian Hasil Belajar mata pelajaran Sejarah berupa pengetahuan sejarah dan kemampuan menggunakan pengetahuan sejarah, ketrampilan berpikir dan menerapkan cara berpikir sejarah dalam mengkaji berbagai peristiwa sejarah, ketrampilan sejarah dan menggunakan ketrampilan tersebut dalam belajar peristiwa sejarah, sikap sikap (religius, rasa kebangsaan, semangat persatuan, cinta tanah air, kreatif, menghargai perbedaan, mengembangkan tindakan kepahlawanan, dan senang belajar sejarah) dan kebiasan belajar. Dalam perencanaan pembelajaran setiap domain tersebut ditulis secara terpisah tetapi dalam proses pembelajaran semuanya dilakukan dalam suatu tindakan belajar (Gagne, 1970).
Berdasarkan taksonomi Andersen, pengetahuan terdiri atas pengetahuan tentang fakta, konsep, prosedur, dan metakognitif.
Kebijakan menggunakan penilaian autentik dalam penilaian hasil belajar adalah mengurangi penggunaan bentuk soal objektif yang hanya terbatas pada pengetahuan faktual dan konseptual. Melalui pendekatan autentik penilaian memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menerapkan kemampuan mereka secara maksimal dan bukan menentukan jawaban yang sudah diberikan, menerapkan apa yang sudah dipelajari dalam dunia nyata, menunjukkan cara berpikir yang sepenuhnya miliknya, mengembangkan alternatif jawaban yang benar dan kemampuan menggunakan data serta teori untuk mengembangkan argumentasi terhadap jawaban yang dikemukakan.
Pembelajaran sejarah mendapatkan keuntungan dengan pendekatan autentik karena akan mengubah kesan yang selama ini bahwa sejarah hanya berkenaan dengan hafalan fakta. Pendidikan sejarah akan memberikan kesempatan kepada peserta didik bahkan untuk menghasilkan “her or his own history” (Borries, 2003). Mereka tidak hanya belajar mendengar, menyimpan, dan mengingat untuk menjawab pertanyaan sebagaimana yang diminta oleh penilaian dengan model pilihan ganda tetapi menjadi orang yang menghasilkan pengetahuan dan cerita sejarah berdasarkan hasil kajian mereka dengan pendekatan penilaian autentik.

MASALAH DAN TANTANGAN
Dalam konteks implementasi Kurikulum 2013 untuk mata pelajaran Sejarah Indonesia dan mata pelajaran Sejarah, masalah adalah tantangan bagi kesuksesan implementasi. Oleh karena itu masalah dantantagan merupakan dua sisi mata uang: bagaimana hal tersebut dipersepsikan. Masalah adalah sesuatu yang harus diatasi untuk keberhasilam implementasi dan tantangan adalah hal-hal yang dapat menghambat keberhasilan jika tidak di atasi.
Masalah dan tantangan yang harus diatasi untuk keberhasilan implementasi mata pelajaran Sejarah Indonesia dan mata pelajaran Sejarah adalah sebagai berikut:
1. kemapanan guru sejarah dalam melaksanakan pembelajaran pendidikan sejarah sehingga enggan melakukan perubahan. Harus diakui kemapanan itu menyebabkan guru merasa aman dan mampu melaksanakan tugas sedangkan perubahan selalu memberikan ketidaknyamanan di waktu-waktu awal.
2. kesukaran mengubah keyakinan bahwa yang baru lebih baik dari yang sedang berlangsung. Keyakinan ini disebabkan oleh pandangan pendidikan yang sudah dianggap berhasil dan yang baru dianggap tidak menjamin keberhasilan. Keyakinan seperti ini terjdi karena sikap kreatif dan inovatif yang rendah.
3. lemahnya proses kontrol kualitas dan jaminan kualitas sehingga yang terbaik adalah yang terjadi secara tradisional di kelas dan sekolah. Lemahnya kontrol dan jaminan disebabkan guru bekerja sendiri, tertutup, tidak bekerjsama dengan sejawat, dan juga sering hanya puas dengan silabus dan RPP yang dihasilkan guru lain dari kegiatan MGMP(Sejarah). MGMP yang seharusnya menjadi lembaga penyegaran dan pemecahan masalah secara profesional berubah menjadi rumah produksi silabus dan RPP.
4. ketidakpercayaan kepada peserta didik. Guru masih belum yakin bahwa peserta didik mampu bekerja (dengan bimbingan guru) secara mandiri untuk membuat mereka dari tdak tahu menjadi tahu, dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak mau menjadi mau asalkan peserta didik dilatih dalam ketrampilan untuk mengembangkan diri.
5. tidak sabar. Guru tidak sabar melihat perubahan peserta didik dalam menguasai ketrampilan untuk mengembangkan pengetahuan mereka. Cara memberi tahu adalah cara paling cepat yang menyebabkan peserta didik tahu walau pun belum tentu mampu apalagi mau.
6. tidak menguasai materi ketrampilan dan sikap serta cara mengembangkan ketrampilan dan sikap. Pembelajaran untuk mengembangkan ketrampilan dan sikap tidak saja mengubah asumsi, filosofi, konsep keberhasilan belajar, konsep pendidikan, dan standar prosedur pelaksanaan tugas tetapi juga menghendaki penguasaan pengetahuan, kemampuan dan kemauan baru yang terkait dengan teori belajar sikap dan ketrampilan.

Untuk mengatasi hal-hal di atas upaya yang paling ampuh adalah kemauan guru untuk berubah, menguasai materi dan cara baru, sabar serta memberikan kepercayaan kepada peserta didik. Ketika kemauan itu ada maka guru mau belajar pengetahuan baru,ketrampilan baru, sikap baru dan mengembangkan kebiasaan baru. Pelatihan adalah upaya pertama untuk memberikan pengetahuan, kemampuan dan mengembangkan kemauan baru tersebut.

Kedua adalah membangun suasana dan lingkungan kerja kooperatif sesama kolega dalam satu satuan pendidikan. Perencanaan bersama dalam apa yang ingin dilakukan dalam pengembangan pengetahuan, ketrampilan dan sikap tersebut. Kemudian guru-guru menterjemahkannya dalam RPP berdasarkan silabus yang telah ditetapkan, melakukan penilaian sejawat untuk melihat konsistensi dalam pengembangan sikap dan ketrampilan, melakukanproses pembelajaran masing-masing, melakukan pertemuan rutin membahas masalah dan tantangan yang ada, melakukan revisi terhadap program. Kerjasama ini yang dinamakan kerjasama komunitas pendidik (cooperative communty of educators) dan merupakan perluasan dari konsep dan prinsip lesson study.

 
PENUTUP
Pembelajaran sejarah dalam Kurikulum 2013 mengalami perubahan dalam posisi, tujuan, proses pembelajaran dan penilaian hasil belajar. Perubahan-perubahan tersebut menempatkan pendidikan sejarah sebagai bagian penting dalam membangun karakter peserta didik sebagaimana yang dikehendaki dalam rumusan Tujuan Pendidikan Nasional. Pendidikan sejarah tidak lagi menjadi sesuatu yang melengkapi dalam membangun karakter tersebut tetapi merupakan salah satu jalur utama disamping mata pelajaran lainnya.
Upaya untuk mengembangkan peran baru pendidikan sejarah dalam pendidikan yang mengutamakan ketrampilan berpikir, menerapkan berbagai kemampuan sejarah, nilai-nilai, dan kemampuan belajar dirancang dalam perencanaan yang sistematis, dalam tingkat kongruensi dan kontengensi yang tinggi antara tujuan, konten, proses pembelajaran, dan penilaian hasil belajardiantara para guru sejarah.
Guru sejarah harus mau dan mampu mengubah mindset dan pelaksanaan pendidikan sejarah yang mengutamakan pemahaman terhadap peristiwa sejarah menjadi pelaksanaan pendidikan sejarah yang berorientasi pada pengembangan dan penggunaan kemampuan berpikir tinggi (ketrampilan sejarah), ketrampilan sejarah, dan konsep-konsep sejarah dalam mempelajari suatu peristiwa sejarah, mampu mengidentifikasi nilai dari suatu peristiwa sejarah. Diskusi dengan peserta didik memperkuat pemahaman terhadap peristiwa sejarah melalui penerapan konsep sejarah (waktu, perubahan, dan keberlanjutan), memahirkan peserta didik dalam penerapan konsep-konsep tersebut. Tugas-tugas diarahkan untuk memahirkan penerapan ketrampilan sejarah dan konsep-konsep sejarah lainnya (bangsa, negara, revolusi, tokoh).
DAFTAR BACAAN

Cooper, H. (1992). The Teaching of History: Implementing the National Curriculum. London: David Fulton Publishers.
Drake, F.D. and Nelson,L.R. (2005) Engagement in Teahing History: Theory and Practices for Middle and Secondary Teachhers. Upper Sadle River, New Jersey: Pearson Prentice-Hall
Hasan, S.H. (1996) Kurikulum dan Buku Teks Sejarah. Keynote paper, presented at National Congress on History. Jakarta, November 13, 1996
Hasan, S.H. (1999). Pendidikan Sejarah Untuk Membangun Manusia Baru Indonesia, Mimbar Pendidikan, XVIII: 2
Hasan, S.H. (2001) Supplemen Kurikulum Sejarah, Jurnal Pendidikan Sejarah, 2001
Hasan, S.H. (2005) Kurikulum Sejarah dan Pendidikan Sejarah Lokal, Seminar Jurusan Pendidikan Sejarah, April 2005
Hasan, S.H. (2010a). Pendidikan Sejarah, Kemana dan Bagaimana? Makalah, di presentasikan di Seminar Asosiasi Guru Sejarah. Jakarta, Maret 2010.
Hasan, S.H. (2010b). The Development of Historical Thinking and Skills in the Teaching of History in the Senior Secondary School Curriculum in Indonesia, Historia: International Journal of History Education, XI: 2, Desember 2010
Husband, C., Kitson, A., Pendry.A. (2003). Understanding History Teaching: Teaching and Learning About the Past in Secondary Schools. Maidenhead, Philadelphia: Open University Press.
Marzano, R.J and Kendall, J.S. (2007). The New Taxonomy of Educational Objectives. Thousand Oaks, CA: Corwin Press – A Sage Publication Company.
Percoco, J.A. (1993). A Passion for the Past: Creative Teaching of U.S. History.Portmouth, NH: Heinemann.
Quillen,D.M. (2001). Challenges and Pitfalls of Developing and Applying a Competency-based Curriculum. Family Medicine, Oktober 2001
Wineburg, S. (2001). Historical Thinking and Other Unnatural Acts: Charting the Future of Teaching the Past. Philadelphia: Temple University Press

DOKUMEN
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 67 Tahun 2013 tentang
Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 68 Tahun 2013 tentang
Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2013 tentang
Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 67 Tahun 2013 tentang
Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 81A Tahun 2013 tentang
Implementasi Kurikulum 2013

DSCN0305 DSCN0306 DSCN0307 DSCN0309 DSCN0310 DSCN0313 DSCN0316 DSCN0321 DSCN0322

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s